Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, December 12, 2011

Televisi Edukasi


Kemarin ketika saya dikampung halaman, saya menghabiskan waktu rehat saya dengan menonton TV. Jujur ketika dijakarta saya lebih sering menghabiskan waktu saya untuk berinteraksi dengan Internet dari pada TV. Namun begitu melihatnya, Jujur, hati ini amat miris. Betapa tidak, acara-acara yang saat ini tampil sungguh jauh dari nilai edukasi. Bahkan cenderung hanya bersifat hiburan belaka yang tidak ada maknanya. Hal ini berbeda sekali dengan acara TV beberapa tahun ke belakang. Hampir semua siaran TV ini justru hanya membodohi masyarakat. Kalau boleh kita menengok sejenak ke beberapa tahun kebelakang ke masa era jaman dahulu, banyak sekali acara yang mendidik. Kita dikenalkan akan budaya bangsa sendiri yang luhur, nilai-nilai pendidikan yang kental, acara-acara untuk anak yang mendidik dan banyak sekali.
            Namun tengoklah saat ini.....Televisi sering sekali menyuguhkan sinetron yang menggambarkan pola hidup mewah, pertikaian keluarga, percintaan, kekerasan dll. Sekalipun ada siaran berita, berita ini pun lebih banyak yang memancing emosi masyarakat. Dan bukan berita yang menambah wawasan. Maka..bisa di tengok yanga ada sekarang, budaya hedonis, konsumerisme dan budaya anarkis mewarnai negeri ini. Dunia pendidikan pun tak mampu membendungnya.
            Disadari atau tidak peran media memegang kendali penting dalam ranah kehidupan masyarakat. Hendaknya, setiap personal yang berperan dalam media menyadari hal ini. Sehingga mampu bersikap arif dan bijak untuk menyuguhkan tayangan kepada masyarakat dan tidak hanya berpegang kepada kepentingan ekonomi semata. Jika kita mencintai negeri ini, jika kita ingin budaya bangsa ini maju, maka suguhkanlah tayangan yang benar-benar mendidik.
            Perkenalkanlah masyarakat budaya bangsa ini yang luhur. Tunjukan kepada masyarakat dan bangsa ini kekayaan negeri ini yang tiada duanya. Berilah tayangan-tayangan yang mampu mendidik masyarakat untuk bersikap arif, santun, bajik dan bijak sebagaimana yang didengunkan di masyarakat luar bahwasanya bangsa indonesia adalah bangsa yang santun. Semoga setiap komponen negeri ini menyadari hal ini dan mampu serta mau untuk merubah yang ada menjadi lebih baik.  
Read More..

Friday, October 21, 2011

Kita harus bercermin kepada dia.

Ia berjalan di depan meja ‘donation’,
kami berpikir: ‘dia akan lewat…’

Saya ingin menyumbang!
Ia menuang koin dari mangkuknya.
Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu,
tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.


Read More..

Sunday, October 16, 2011

Tidak Mudah menjadi Orang Baik......

Tidak mudah menjadi orang baik.

Jika kita membaca judul diatas, kesan yang kita rasakan pertama kali pasti adalah wajar, biasa dan sangat umum. Youp….benar. karena memang itulah yang penulis rasakan. Mendengar kata orang baik itu nampaknya sangat wajar dan sedikit bernilai rasa. Dianggap wajar karena “dianggap semua orang bias melakukannya”. Akan tetapi benarkah itu? Penulis agak sanksi dengan anggapan tersebut.
           
Berdasarkan dari apa yang penulis alami, untuk menjadi orang baik itu tidak mudah. Namun bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Karena hanya sedikit yang bias demikian. Kalau toh kita berbuat baik, terkadang ada kepentingan di sana walaupun sedikit.
Read More..

Thursday, September 15, 2011

[Parah] Siswi Miskin Dijemur Sekolah Karena Tidak Pakai Seragam Baru

Sungguh memprihatinkan dan mengenaskan nasib kaum miskin di negeri ini untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak bagi mereka. Kisah ini nyata terjadi di negeri kita, tidak seperti yang digembar gemborkan pemerintah akan membantu warga miskin untuk bersekolah dan mendapatkan pendidikan layak tapi sebaliknya.

Seharusnya masalah seragam seperti yang menimpa Fitri penyelesaiannya tidak sampai seperti itu

Fitri Ayu Prasetyo, siswa kelas II SMPN 37 Surabaya yang dihukum jemur oleh sekolah, Senin (12/9/2011) itu, pulang sambil menangis. Ia merasa sekolah tidak mau mengerti kondisi orangtuanya. “Saya kaget, Fitri menangis. Ia mengaku dihukum karena bet (badge) seragamnya tak baru. Saya tidak kuat membelinya,” kata ayah Fitri, Untung Budi Raharjo, Rabu (14/9/2011). Penarik becak ini mengaku, untuk datang ke sekolah dan menjelaskan kondisinya, ia tidak berani. Ia mengaku pening begitu tahu harga kelengkapan seragam anaknya.
Read More..