Pernah suatu ketika suatu waktu pada bulan ramadhan perut terasa begitu lapar. Maklum saat itu merupakan awal dari puasa. Sehingga perut belum terbiasa menerima kondisi tersebut. Siang itu jam terasa begitu lambat. Menunggu adzan maghrib terasa lamaaa..sekali. Bayangan akan makanan yang terhidang di meja makan makin membuat perut ini tidak kuat menahan lapar.
Alhasil…..ketika maghrib tiba, dengan sedikit rasa tidak sabar saya makan dengan sedikit tergesa-gesa dan makan dengan lahap sekali.
Namun itu tidak berlangsung lama. Setelah beberapa menit, terasa perut ini sudah penuh terisi dan tidak mampu untuk di masuki makanan kembali.
Pengalaman di hari pertama membuat saya tidak berani mengulangi apa yang telah saya lakukan. Meskipun lapar namun berusaha untuk tidak terlalu buru-buru.
Di hari selanjutnya perut tidak terasa lapar. Karena sudah biasa dan tidak lagi terasa lapar yang sangat.
Namun di kemudian hari saya menjadi bertanya-tanya. Rasa lapar yang hilang malah menjadi suatu yang hambar. Puasa menjadi tidak begitu berarti tanpa ada rasa lapar. Timbul pertanyaan dalam hati, kenapa bisa menjadi begini hambar?
Dari situlah saya mengerti mungkin rasa lapar adalah salah satu inti dari puasa tersebut. Lapar adalah salah satu nilai utama dari puasa tersebut. Dari lapar itulah akan timbul nilai-nilai di sana.
Read More..